Potensi Wisata YangTerlupakan Di Kiawa, Minahasa
Siang itu, panas terik yang menyengat tak mengurungkan niatku menyusuri keindahan Kiawa dengan pesona keunikan tinggalan masa lalu; makam-makam unik, hutan Kalpataru, jalan salib Goa Madona Maria dan keindahan air terjun Laun Dano di lembah Kiawa. Apa yang tersuguh disini seakan-akan merupakan petualangan dari masa ke masa. Saya sangat ingin menyaksikan keseluruhan rangkaian tempat wisata yang menurutku sangat unik; memuat wisata alam dan wisata sejarah/arkeologis dalam satu paket sekaligus.
Kiawa adalah sebuah desa tertua di Minahasa yang berada di Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Tempat ini bisa dicapai dengan naik mobil sekitar satu setengah jam dari kota Manado. Secara geografis, RO’ONG KIOWA (Kiawa) terletak di kaki Gunung Lengkoan dan membujur dari timur ke barat serta di apit oleh sungai. Di sebelah utara dibatasi oleh sungai SONDER, sebelah selatan oleh sungai RANO WANGKO’, sebelah barat ALAM LA’UN DANO dan sebelah Timur GUNUNG LENGKO’AN.
Kiawa berada hampir tepat di antara Sonder dan Kawangkoan. Bila memperhatikan peta tanah Minahasa dan ditarik garis lurus dari timur ke barat atau dari utara ke selatan , maka secara geografis desa Kiawa berada di tengah-tengah tanah Minahasa sehingga Kiawa disebut PUSER IN TANA’.
Menurut Jantje Worotitjan, Etnis Kiawa adalah penduduk asli purbakala yang bermukin dan berdiam serta merupakan asal muasal Etnis Ka-senduk-an, yang dalam perkembangannya setelah menjadi “taranak-taranak” (rumpun-rumpun keluarga) besar yang berpencar mendiami tanah Ka-senduk-an, akhirnya berubah menjadi anak suku yang menjadi bagian dari masyarakat Ka-senduk-an, sehingga pu-purengkey-en yang menceriterakan tentang keadaan masyarakat Kiowa purba, erat kaitannya bahkan tak dapat dipisah-pisahkan dengan masyarakat Ka-senduk-an purbakala, yang dikenal pula dengan sebutan Ma-lesung, yang setelah terpisah-pisah dan terkotak-kotak dalam walak-walak, kemudian mengadakan re-uni di Watu Pina-weteng-an, sehingga walak-walak itu menjadi satu kembali dan dikenal dengan sebutan “SE-MINA-ESA” atau “NI-MA-ESA” yang lebih popular disebut MINA-ESA yang berarti “YANG BERSATU”, namun kemudian oleh bangsa Belanda lebih mudah melafalkannya dengan sebutan “MINAHASA”.
Sebenarnya Kiawa dikenal dengan sebutan PUSER IN TANA’ KA-SENDUK-AN KIOWAK tapi pada jaman penjajahan Belanda dirubah namanya menjadi Kiawa. Wanua KIOWA didirikan oleh Wali’an La’Un Dano bersama Amute Wewene dan Tu’ure Tuama. Dalam Bahasa Toun-temboan, kata KIOWA berarti, “HIDUP BAHAGIA DAN SEJAHTERA BERSAMA-SAMA SECARA RUKUN AMAN DAN DAMAI SENTOSA”. Wanua Kiowa berarti “ Tempat hidup bersama secara rukun damai, aman sentosa dan sejahtera.” Menurut Prof. MIEKE SCHOUTEN menyatakan bahwa bahasa asli Tountemboan hanya ada di Kiawa, sedangkan didaerah lainnya sudah terkontaminasi.
Melewati rumah-rumah penduduk saat masuk ke Kiawa, mataku tertuju pada satu Waruga (peti kubur batu) yang dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Timbukar di halaman rumah penduduk. Berjalan ke arah Barat Desa, nampak kompleks pemakaman berada disisi kiri dan kanan jalan dimana berjejer waruga-waruga.Waruga ini merupakan tinggalan jaman Megalitikum. Waruga terdiri dari dua bagian yaitu badan dan penutup. Kedua bagian ini umumnya terbuat dari batu utuh (monolith) yang dipahat berbentuk kubus dan bagian atasnya berbentuk atap rumah. Di dalam badan waruga terdapat rongga tempat mengubur orang yang telah meninggal, beserta bekal kubur berupa manik-manik, keramik, gelang, perhiasan emas, alat-alat yang merupakan benda kesayangan pemiliknya yang menjadi bekal di kehidupan selanjutnya.
Orang Minahasa kuno yang meninggal akan dimasukkan ke dalam rongga itu dengan posisi jongkok atau posisi lutut menempel di dagu. Dalam pandangan orang Minahasa, manusia mengawali hidup dalam posisi jongkok di rahim ibu, maka ketika mati harus dalam posisi jongkok pula. Waruga ini tersebar di beberapa tempat di Minahasa dan ada juga badan waruga yang berbentuk segi delapan dan bulat.Total waruga yang ditemukan di seluruh Kiawa ada 30 buah dan bentuk waruga disini bermacam-macam dan unik,namun waruga yang terkenal berada di Sawangan. Menurut Arkeolog Kurt Tauchmann situs Kiawa diprediksi berumur sekitar 1500 tahun yang lalu.
Orang Minahasa kuno yang meninggal akan dimasukkan ke dalam rongga itu dengan posisi jongkok atau posisi lutut menempel di dagu. Dalam pandangan orang Minahasa, manusia mengawali hidup dalam posisi jongkok di rahim ibu, maka ketika mati harus dalam posisi jongkok pula. Waruga ini tersebar di beberapa tempat di Minahasa dan ada juga badan waruga yang berbentuk segi delapan dan bulat.Total waruga yang ditemukan di seluruh Kiawa ada 30 buah dan bentuk waruga disini bermacam-macam dan unik,namun waruga yang terkenal berada di Sawangan. Menurut Arkeolog Kurt Tauchmann situs Kiawa diprediksi berumur sekitar 1500 tahun yang lalu.
![]() |
Waruga yang tak terurus |
Kompleks makam kuno ini kesannya kurang terawat melihat beberapa waruga yang dalam kondisi rusak pada bagian atapnya dan ditumbuhi tumbuhan pakis. Ironisnya lagi, dikompleks makam bagian sisi kanan jalan ini sebagian makam terletak diantara tanaman jagung. Sedangkan waruga-waruga pada sisi kiri jalan disekitarnya terdapat tumbuhan semak yang hampir menutupi waruga. Suatu pemandangan yang sangat disayangkan.
![]() |
Makam berbentuk mobil |
Disebelah Barat makam-makam tua terdapat juga deretan makam yang tergolong makam baru, berjejer bak perumahan di kedua sisi jalan. Ada yang unik dari makam ini, yaitu makam yang berbentuk mobil dan motor.Saya sempat bertanya pada seorang penduduk yang kebetulan lewat tentang makam unik ini. Katanya yang bentuk mobil itu karena orang yang dikubur meninggal karena kecelakan mobil, sementara yang bentuk motor karena meninggal akibat kecelakaan motor. Dan makam lain yang berbentuk jendela rumah dll itu karena meninggal biasa. Ya, saya rasa...beberpa puluh tahun lagi makam ini akan menjadi makam tua unik Desa Kiawa.
![]() |
Makam berbentuk |
Setelah puas melihat dan jepret sana-sini pada kompleks makam ini, saya melanjutkan perjalanan menuju Lembah Laun Dano dimana air terjun Laun Dano berada. Menurut orang-orang tua Kiawa, desa Kiawa pertama itu berada di kebun Mawale dan itu terletak jauh ke bawah disekitar air terjun Laun Dano berada. Sedangkan Kiawa sekarang boleh dikata dibangun diatas pekuburan waruga.
Saya melanjutkan perjalanan melewati kebun-kebun penduduk menuju hutan Kalpataru yang terasa sangat menyenangkan. Ini merupakan bagian yang menawarkan potensi wisata alam Kiawa. Setelah melewati kebun terakhir, udara sudah mulai berbeda dibandingkan saat berada di kompleks pemakaman. Aroma hutan tropis dan sejuk pegunungan mulai menyambut.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan setapak yang merupakan jalan salib dan wisata rohani Goa Madona Maria. Pada jarak tertentu di jalan salib ini terdapat patung Yesus yang sedang disalib dan Goa Bunda Maria. Setelah melewati Goa Bunda Maria, perjalan mulai sulit. Menuruni lembah yang curam mengikuti sisi bukit yang licin dengan kemiringan sekitar 45 derajat menuju lembah, membuat lututku bekerja keras dan harus ekstra hati-hati bila tidak ingin tergelincir ke lembah di bawah sana.
![]() |
Kondisi Rute ke Lembah Laun Dano |
Setelah beberapa menit berjalan turun, dari kejauhan mulai terdengar suara gemuruh air terjun di bawah sana. Saya melongok ke bawah mencari sumber dari suara gemuruh itu tapi belum juga kelihatan. Balutan kabut yang mengintip disela-sela pepohonan juga menghalangi pandangan. Lembah yang dituju rupanya masih berada jauh dibawah. Tapi dengan semangat dan rasa penasaran ingin melihat ada apa di lembah ini, perlahan-lahan saya lanjut turun sampai akhirnya tiba juga di dasar lembah.
Lembah ini lumayan luas dengan sungai kecil dikelilingi oleh bukit yang terjal dan air terjun Laun Dano yang cantik. Tempat ini sangat bagus untuk berkemah karena dekat dengan sumber air. Beberapa tenda-tenda nampak didirikan disini. Dibawah pohon besar tidak jauh dari jejeran tenda-tenda terdapat duah buah batu tegak yang menurutku mirip menhir mengingat desa Kiawa pertama itu berada di kebun Mawale disekitar air terjun Laun Dano berada. Tapi menurut beberapa anak KPA yang berkemah disitu dua batu tersebut adalah kuburan tua; yang tinggi adalah nisan laki-laki dan yang pendek adalah istrinya.
![]() |
Kolam air panas |
![]() |
Kolam air dingin |
Dari balik pepohonan di bagian Utara, nampak air terjun alam yang megah bernama Laun Dano. Untuk ke air terjun ini juga tidak mudah. Kita harus menyeberangi sungai keci lalu melewati jalan menanjak yang lumayan licin. Laun Dano memiliki pemandangan yang sangat mempesona. Kucuran airnya terbelah menjadi dua oleh bongkahan tebing batu di tengahnya. Di dasarnya, kita bisa bermandi ria dengan airnya yang segar dan alami.
![]() |
Air Terjun Laun Dano yang Megah |
Bagi kebanyakan pengunjung, kolam dan air terjun Laun Dano ini nampaknya lebih menarik perhatian daripada objek wisata sejarah/arkeologi yang terdapat di Kiawa. Beberapa orang yang saya temui justru hanya mengenal “sepintas” Waruga yang ada di kawasan wisata ini. Mereka malah bertanya-tanya ketika saya masuk ke areal pemakaman tadi.
Bagaimanapun, potensi wisata di Kiawa memang sangat unik dan menarik. Sayangnya perhatian pemda setempat nampaknya masih terasa sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari objek wisata alam dan situs arkeologis yang di sana-sini nampak tidak terurus. Padahal, Waruga, misalnya, sebenarnya memiliki pesona tersendiri dan merupakan potensi wisata yang sangat besar bila terawat dengan baik dan diperkenalkan pada masyarakat sebagai tinggalan Megalitik yang sangat penting bagi sejarah perjalanan Bangsa, khususnya Minahasa.
Saya yakin, Kiawa bisa menjadi salah satu tujuan wisata populer di daerah ini bila dipoles dan dipromosikan dengan lebih baik. Mudah-mudahan, pihak-pihak terkait bisa mewujudkan hal ini di masa-masa yang akan datang. Semoga.
sumber dari Zona Petualang
No comments:
Post a Comment